Rabu, 07 Oktober 2009
Bunuh Diri Demi Anak, Diijinkan Tuhan?
Pdt. Bigman Sirait
SEBUAH pertanyaan menarik yang seringkali menjadi perdebatan tentang kema-hakuasaan Tuhan, dalam kehidu-pan manusia. Kolek yang dikasihi Tuhan, mari kita telusuri apa kata Alkitab tentang hidup. Jelas Tuhan adalah pencipta yang menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada (Kejadian 1: 26). Tuhan adalah pe-milik dan penguasa hidup setiap manusia. Lalu apa itu kematian? Perlu dimengerti bahwa pada waktu manusia diciptakan, dia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Artinya manusia di-ciptakan dalam potensi kekekalan. Manusia tidak akan mati jasmani dan rohani jika tetap hidup sesuai perintah Allah. Namun, saat yang bersamaan manusia juga bisa mati jasmani dan rohani apabila melang-gar perintah Allah, yaitu larangan memakan buah yang ada dite-ngah taman (Kejadian 2:16-17). Ternyata manusia tidak taat, me-lainkan melanggar perintah Allah sehingga dihukum Allah. Hukuman-nya adalah kematian. Kematian yang langsung adalah terpisah dari Allah, atau apa yang biasa kita sebut mati rohani. Namun manusia juga mengalami kematian jasmani akibat dosa, tapi berproses dalam bilangan waktu. Jadi kematian ada-lah konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Nah, sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa daya hidup manusia te-rus menurun, dari seribuan tahun hingga hanya sekitar 70 tahun (Mazmur 90:10). Kematian biologis ini kita mengerti sebagai perjalanan waktu, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan kemudian me-ninggal dunia. Sekali lagi perlu diingat kematian yang kita pahami saat ini adalah akibat dosa. Ini adalah fakta Alkitab. Dalam keber-dosaan, cara mati manusia ber-aneka ragam: ada yang mati ka-rena sakit, kecelakaan, atau karena faktor usia. Tapi sekali lagi, itu hanya soal cara. Sementara bunuh diri, seperti Yudas, bukanlah cara mati yang diperkenan oleh Tuhan. Tuhan pemilik hidup, manusia tak boleh mengambil hidup orang lain, atau menghabisi hidupnya sendiri (bunuh diri). Dalam sepuluh hukum Tuhan jelas dikatakan: jangan membunuh! (Keluaran 20:13).
Nah, dengan perintah ini jelas tidak boleh membunuh orang atau membunuh diri sendiri. Bahwa kematian tidak akan terjadi jika Tuhan tidak menghendaki, itu be-tul. Karena memang Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas kehidupan semua manusia. Namun jika seseorang bunuh diri, padahal dia sudah tahu bahwa itu tidak boleh, dilarang oleh Tuhan, maka dia harus bertanggung jawab atas tindakannya. Sementara Tuhan bukan tidak bisa mencegah, tetapi lebih kepada membiarkan orang itu dengan pilihannya, dan dia akan diperhadapkan dengan pengadilan Allah. Cobalah pikirkan, apakah Tuhan setuju pencurian, penipuan, penganiayaan, dan dosa-dosa lainnya? Jelas tidak! Tapi apakah hal itu terjadi dalam kehidupan ini? Jelas ada! Apakah karena Tuhan tidak bisa mencegah? Jelas tidak, melainkan membiarkan itu terjadi dalam hidup keberdosaan. Kejaha-tan adalah konsekuensi dosa, dan Tuhan akan membawa semuanya kepengadilan-Nya kelak.
Jadi, ini bukan soal bisa atau tidak bisa mencegah. Tapi ini soal per-aturan yang sudah Allah tetapkan, lengkap dengan konsekuensi hu-kum apabila melanggarnya. Sese-orang bisa bunuh diri, jika Tuhan mau, Tuhan bisa mencegahnya, tetapi Tuhan juga bisa membiar-kannya, ini adalah kedaulatan Tuhan. Jika Tuhan tidak mence-gahnya, itu bukan karena Dia tidak bisa, tapi karena membiarkannya dan akan mengadili orang yang bunuh diri itu di kekekalan. baca selanjutnya...
|
![]() |
|
Embed Banner Berikut kedalam blog atau web anda
KLIK GAMBAR DIBAWAH UNTUK MEMPERBESAR FLASH
![]() | ![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |



















No Response to "Bunuh Diri Demi Anak, Diijinkan Tuhan?"
Poskan Komentar